malam-malam berkabut
seperti bulan-bulan sebelumnya
masih menyamarkan nafasmu
ke gemulai liuk asap
ke goyang daun-daun akasia
sudahkah aku menghirup
sedikit dari cuaca malam ini
untuk melegakan paru-paru
untuk mengembangkan kembali
dadaku
yang sudah kian lembek
dan layu
malam-malam berkabut
menyingsingkan gamang
menyusupkan degup
secukupnya ngiang
untuk telingaku
yang telah fasih
mendengar desis
bibirmu
september akan berakhir
sebab itu aku paham
kau tak akan datang
meski lewat deru udara
iring-iringan debu
di malam-malam berkabut
bulan-bulan berikutnya
Awalnya bukan Penulis terus gua nyoba ngeBlogger gua itu seorang Mahasiswa (S.Pd) Bahasa dan Sastra Indonesia gua juga Pecandu Vespa dulu punya sekarang ga, banyak yang bilang gua (Master) of Playstation 2 dan karya gua ini Sedikit Ada Campur Tangan dari Penulis atau Blogger lain.
HASIL GUA NGEBLOG DAN SEDIKIT PERCAMPURAN BLOG LAIN
Sabtu, 03 November 2012
Aku Ingin Berbicara Kepadamu
bagaimanakah suara hujan di tempatmu?
aku ingin mendengar suara hujan di sana
sebab suara hujan di rumahku tak lembut
begitu gaduh dan berisik
aku rindu menyambangi becek jalan tanah
sepanjang perjalanan menuju rumahmu itu
sepanjang helai rambutmu yang berhasil
kubelai
bagaimanakah bunyi tertawa milikmu?
apakah masih sama seperti dahulu?
aku hampir lupa seperti apa rasanya
saat jemarimu tak sengaja
menyentuh jemariku
aku hampir lupa
seperti apa
rasa hangat itu
bagaimanakah suara hujan di tempatmu?
aku ingin ke sana pergi ke tempatmu
menemui apa yang sempat kita buat
dan terpaksa kutinggalkan
demi waktu
dan sebuah kenangan
aku ingin berbicara dalam riuh hujan
bulan desember, berbicara kepadamu
bahwa cinta ada dalam ruang dadaku
dan telah kehilangan nafas karena
dirimu
aku ingin mendengar suara hujan di sana
sebab suara hujan di rumahku tak lembut
begitu gaduh dan berisik
aku rindu menyambangi becek jalan tanah
sepanjang perjalanan menuju rumahmu itu
sepanjang helai rambutmu yang berhasil
kubelai
bagaimanakah bunyi tertawa milikmu?
apakah masih sama seperti dahulu?
aku hampir lupa seperti apa rasanya
saat jemarimu tak sengaja
menyentuh jemariku
aku hampir lupa
seperti apa
rasa hangat itu
bagaimanakah suara hujan di tempatmu?
aku ingin ke sana pergi ke tempatmu
menemui apa yang sempat kita buat
dan terpaksa kutinggalkan
demi waktu
dan sebuah kenangan
aku ingin berbicara dalam riuh hujan
bulan desember, berbicara kepadamu
bahwa cinta ada dalam ruang dadaku
dan telah kehilangan nafas karena
dirimu
Yang Bertalang Betung, Yang Berpagar Lalang
di semak rambutmu sajak merabuk, sajak mengurai
diri menjadi cadik, menjadi layar perahu yang
menepis asin angin dan pahit laut
barangkali kau telah berjanji kepada kekasihmu,
wanita yang berdiam dalam deras gerimis batu
kau akan pulang dari negeri jauh, tempat kau
mengais tanah, mengubur api tungku
dan menahan liur tersebab matahari pecah
tapi tungkai kakimu adalah sayap, menolak
kau kembali pulang ke ladang, bersetubuh
dengan miang lebat lalang
ia memilih untuk terus terbang, bersitatap
dengan lembab udara, membentang selebar kata-kata
dalam sajak dalam rambutmu yang perak
membumbung dari buih embun batang buluh
yang memancing kau turun, menjemput
bunyi rindu yang jauh
tapi kekasihmu telah bertenun hujan, berselimut
rumput, bersikeras menampik kilau rekata
meski seringkali di tengah malam buta ia meranyau
tentang lelaki yang lupa jalan pulang,
lelaki berambut perak yang patah sayapnya,
lelaki yang tersesat di ladangnya sendiri
dan bukankah kau yang dahulu menikamkan
pucuk belati ke ulu dada perempuan itu,
perempuan yang berdiam dalam gerimis batu?
maka dengarlah lewat ringkih suara angin menari
dalam sajak-sajakmu
ia sedang menunggu kau pulang, menanti untuk
kau pinang
dalam rumah bertalang betung
beratap hujan, berpagar lalang
diri menjadi cadik, menjadi layar perahu yang
menepis asin angin dan pahit laut
barangkali kau telah berjanji kepada kekasihmu,
wanita yang berdiam dalam deras gerimis batu
kau akan pulang dari negeri jauh, tempat kau
mengais tanah, mengubur api tungku
dan menahan liur tersebab matahari pecah
tapi tungkai kakimu adalah sayap, menolak
kau kembali pulang ke ladang, bersetubuh
dengan miang lebat lalang
ia memilih untuk terus terbang, bersitatap
dengan lembab udara, membentang selebar kata-kata
dalam sajak dalam rambutmu yang perak
membumbung dari buih embun batang buluh
yang memancing kau turun, menjemput
bunyi rindu yang jauh
tapi kekasihmu telah bertenun hujan, berselimut
rumput, bersikeras menampik kilau rekata
meski seringkali di tengah malam buta ia meranyau
tentang lelaki yang lupa jalan pulang,
lelaki berambut perak yang patah sayapnya,
lelaki yang tersesat di ladangnya sendiri
dan bukankah kau yang dahulu menikamkan
pucuk belati ke ulu dada perempuan itu,
perempuan yang berdiam dalam gerimis batu?
maka dengarlah lewat ringkih suara angin menari
dalam sajak-sajakmu
ia sedang menunggu kau pulang, menanti untuk
kau pinang
dalam rumah bertalang betung
beratap hujan, berpagar lalang
Langganan:
Postingan (Atom)