HASIL GUA NGEBLOG DAN SEDIKIT PERCAMPURAN BLOG LAIN

Kamis, 03 Januari 2013

Cinta dan cinta

Aku pernah terlahir ke dunia..
Begitupun engkau, mereka, dan yang lainnya..
Kita tercipta karena Cinta dan cinta..
Dikepakkan sayap-sayap sayup dalam doa..

Cinta itu guru bagi manusia..
Ia melahirkan garis penghidupan..
Dalam nafas-nafas yang panjang dan terasa lelah..
Katup-katup cahayanya terbuka dari balik langit..

Cinta itu anugerah Tuhan..
Merdeka pengharapan dan manis peraduan..
Sesekali dijejali pahit dunia..
Begitu berat terasa, indah hangat tersampaikan pada jiwa..

Cinta itu alam..
Menyatu dalam keindahan tiap bunga yang bermekaran..
Mengasihi anak-anak adam dan hawa dilembah kebebasan..
Hadir bersama awan dan hujan ditengah tandus hati..
Serta kokoh berdiri musim-musim menjajaki citra manusia..

Sedang cintaku itu engkau..
Timbul dari balik luka..
Duduk dipeluk sayap-sayap cinta fana..
Menunggu perangai rembulan dari balik pegunungan..
Menumbuhkan bunga-bunga pada mata kita..
Pun kan lahir dari tunas-tunas jiwa kita sebuah Cinta dan cinta yang Agung..

Karya : Saputra Cahya Yunanto

Rabu, 02 Januari 2013

Soal Wacana


1.Bacalah wacana berikut dengan saksama!
Bendungan di Desa Jatirogo ini tidak ada duanya di Indonesia. Tubuh bendungan tersebut dari bantalan karet berisi air. Karena terbuat dari karet, tinggi permukaannya bisa diatur secara fleksibel. Bila terjadi banjir, bantalan karet itu dikempiskan. Dan air bah lancar mengalir ke laut. Sebaliknya, bila volume air sungai mengecil, tubuh bendungan diisi penuh, sehingga tingginya mencapai 3 m. Sungai terbendung dan airnya dimanfaatkan sebagai air minum dan irigasi. Pada saat yang sama, air pasang dari laut akan terhambat dan tak mencemari sungai yang menjadi sumber utama air tawar masyarakat di sekitar sungai.

Simpulan isi wacana di atas adalah…
a.Bendungan dari bantalan karet dapat membendung sungai.
b.Bendungan dari bantalan karet sangat bermanfaat.
c.Bendungan dari bantalan karet dapat mengalirkan air.
d.Pemanfaatan air melalui bendungan bantalan karet.
e.Bendungan bantalan karet dapat diisi dengan air.



2. Bacalah paragraf berikut dengan saksama!
Industri kimia dan petrokimia, industri pulp dan kertas, serta industri baja menggunakan minyak bumi sebgai bahan bakar utama untuk menggerakkan mesin-mesin pabrik. Demikian juga halnya alat transportasi laut, darat, dan udara, juga menggunakan minyak bumi sebagai bahan bakar utamanya.

Simpulan umum paragraf di atas adalah…
a. Minyak bumi sebagai bahan bakar berbagai industri.
b. Gas bumi dan batubara merupakan sumber energi yang penting.
c. Alat transportasi menggunakan minyak bumi sebagai bahan bakar utama.

d. Minyak bumi merupakan bahan bakar utama untuk berbagai macam industri dan alat transportasi.


e. Alat transportasi laut dan darat menggunakan minyak bumi sebagai bahan bakar.


3. Bacalah paragraf berikut dengan saksama!

Truk yang bermuatan cukup sarat itu gagal mendaki tanjakan licin pada penyeberangan sungai. Hujan lebat sebelumnya menyebabkan kondisi jalan sangat berat untuk dilewati, sehingga truk terperosok mundur ke tengah sungai. Agar memudahkan pendakian tanjakan, maka Ayub, pengemudi truk, meminta para penumpangnya turun. Dia bahkan mengingatkan kemungkinan terjadinya banjir bandang dari sebelah hulu. Akan tetapi, para penumpang menolak permintaan itu.
Ide pokok paragraf di atas adalah…
a. Truk gagal mendaki tanjakan licin. b. Truk terperosok mundur ke tengah sungai. c. Pengemudi truk meminta agar penumpang turun. d. Supir mengingatkan kemungkinan terjadinya banjir bandang. e. Penumpang menolak permintaan supir.


4. Bacalah paragraf berikut dengan seksama!

Jumlah angkatan kerja yang meningkat setiap tahun merupakan keuntungan sekaligus sebagai tantangan bagi pemerintah dan bangsa Indonesia dalam melaksanakan pembangunan nasional. Menurut pendapat para ahli bahwa manusia sebagai sumber potensial merupakan salah satu modal dasar pembangunan, yaitu sebagai motor penggerak dalam mekanisme kerja dalam proses produksi, serta sebagai sasaran dan hasil produksi itu sendiri.

Opini (pendapat) yang terdapat dalam paragraf diatas adalah …
a. Jumlah angkatan kerja yang meningkat.
b. Setiap tahun merupakan keinginan dan sekaligus sebagai tantangan.
c. Melaksanakan pembangunan nasional.

d. Manusia sebagai sumber potensi merupakan salah satu modal dasar pembangunan.


e. Sebagai sasaran dan hasil produksi itu sendiri.



5. Bacalah paragraf berikut dengan saksama!
Faktor utama untuk bersaing adalah SDM yang sekaligus sebagai subjek dalam berproduksi. SDM perusahaan atau industri harus memiliki kemampuan teknis profesional dan adaptif. Kemampuan teknis profesional adalah keahlian menghasilkan barang dan jasa dengan sarana teknologi yang memadai. Kemampuan adaptif adalah kesanggupan SDM untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan alam, sosial, dan lingkungan kerja, disiplin dan niai-nilai dalam perusahaan itu sendiri. Dengan kata lain, mereka harus memiliki kemampuan normatif.
Penalaran yang terkandung dalam paragraf di atas adalah …
a. Deduktif b. Induktif c. Deduktif – induktif d. Sebab – akibat e. Generalisasi


6. Bacalah paragraf berikut dengan saksama!

Berbicara tentang pendidikan sebenarnya sama halnya dengan berbicara tentang kehidupan. Pendidikan merupakan proses yang dilakukan setiap individu menuju arah yang lebih baik sesuai dengan potensi kemanusiaan. Proses ini hanya berhenti ketika nyawa sudah tidak ada di dalam raga manusia. Pendidikan pada hakikatnya adalah proses memanusiakan manusia. Profesor Driyarkarya merumuskan pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia muda, yakni suatu pengangkatan manusia muda ke taraf insani sehingga ia dapat menjalankan hidup sebagai manusia utuh dan membudayakan diri.

Ikhtisar kutipan paragraf tersebut adalah….
a. Pendidikan sangat diperlukan setiap individu dalam kehidupan bermasyarakat, terutama dalam menjadikan masyarakat berbudaya.
b. Pendidikan adalah proses berkesinambungan dalam memanusiakan manusia menjadi manusia utuh dan berbudaya sesuai potensi yang dimiliki.
c. Selama masih hidup, setiap individu memerlukan pendidikan dengan tujuan untuk memanusiakan dirinya agar menjadi manusia yang utuh dan menjadikan dirinya berbudaya.
d. Pendidikan dan kehidupan ini tidak dapat dipisahkan karena pendidikan diperlukan oleh setiap individu untuk mencapai taraf insani, yakni sebagai manusia yang utuh dan membudayakan diri.
e. Melalui pendidikan, manusia dapat mencapai taraf hidup yang lebih baik, yakni sebagai manusia yang utuh dan membudayakan diri.


7. Cermati paragraf rumpang berikut ini!

Seberapa penting dan menentukankah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap kehidupan masyarakat? ……….berlebihan kalau kita katakan………..pengaruh itu tidak ada. Pelemahan nilai tukar yang terus terjadi menimbulkan efek psikologis yang tidak baik. Apalagi, masyarakat pernah merasakan pengalaman pahit…………nilai terpuruk sehingga mengakibatkan barang-barang menghilang dari pasaran. ………….ada, harganya tidak terjangkau lagi.
Kata penghubung yang tepat untuk melengkapi paragraf rumpang tersebut adalah…
a. Tentu saja, kalau, begitu, barangkali b. Tentunya, bahwa, ketika, kalau c. Namun, bahwa, begitu, bahkan d. Namun, ketika, begitu, barangkali e. Oleh karena itu, seandainya, selama, ketika



8. Bacalah wacana berikut dengan saksama!
Naiknya harga minyak dunia membuat pemerintah Indonesia dalam posisi sulit. Jika tidak mengikuti kenaikan harga minyak dunia tersebut, yaitu dengan menaikkan harga BBM dalam negeri, perekonomian Indonesia akan hancur. Sebaliknya, apabila menaikkan harga BBM, masyarakat menengah ke bawah akan mengalami kesulitan hidup. Akhirnya, pemerintah mengambil langkah berani, yaitu menaikkan harga BBM dengan memberikan kompensasi berupa subsidi langsung kepada masyarakat kecil.

Isi paragraf di atas seperti diungkapkan oleh peribahasa…
a. Malang tak boleh ditolak, mujur tak boleh diraih.
b. Bagaikan makan buah simalakama, dimakan ibu mati, tidak dimakan bapak mati.
c. Memakan hendak kentang, membeli hendak ubi.
d. Ingin buah manggis di hutan, masak ranum tergantung tinggi.
e. Mati anak berkalang bapak, mati bapak berkalang anak.



9. Bacalah wacana berikut dengan cermat!
Pemakaian batubara di negara kita hingga saat ini masih terbatas hanya pada PLTU dan pabrik semen. Teknologi pengolahan dan kualitas batubara yang dimiliki bisa dikatakan masih rendah. Selain itu, masalah dana juga sangat terbatas. Di negara-negara maju, batubara sudah bisa diolah menjadi sumber energi. Di samping itu, dengan teknologi tinggi, batubara sudah bisa menghasilkan bahan baku industri kimia berupa gas sintetis.

Berikut ini yang bukan merupakan rincian gagasan yang dikemukakan pada wacana di atas adalah…..
a. teknologi pengolahan batubara masih rendah
b. kualitas batubara masih rendah

c. batubara menjadi sumber energi

d. batubara bahan baku industri kimia
e. pemakaian batubara masih terbatas


10. Sistem ujian SD/MI tahun 2008 dinamakan ujian nasional yang terintegrasi dengan

ujian sekolah. Ini adalah jalan tengah, mempersiapkan sekolah beradaptasi dengan
UN yang menetapkan peserta didik harus lulus Bahasa Indonesia, Matematika, dan
IPA. Jalan tengah itu diharapkan menghentikan protes penyelenggaraan UN tingkat
SD setelah pemerintah berseikeras pantang mundur dan menyelenggarakan UN
jenjang SLTP dan SLTA. Protes selama ini berisi UN tidak bisa dipakai untuk
memetakan kondisi praktis pendidikan. UN hanya memotret sesaat, apalagi
kemudian ternyata siswa didril dengan tiga mata pelajaran yang diujikan nasional,
sebab sekolah mengharapkan sebanyak mungkin lulus. Pemetaan mesti
ditempatkan dalam konteks proses dan bukan diorientasikan pada hasil saja. (Kompas,12 November 2007)

Simpulan yang tepat isi tajuk rencana diatas adalah…
a. Ujian nasional yang terintegrasi dengan ujian sekolah adalah jalan tengah yang diharapkan menghentikan protes penyelenggaraan UN tingkat SD.
b. Ujian nasional yang terintegrasi dengan ujian sekolah mempersiapkan sekolah beradaptasi dengan UN yang menetapkan peserta didik harus lulus Matematika, IPA, Bahasa Indonesia.

c. Protes selama ini berisi UN tidak bisa dipakai untuk memetakan kondisi praktis pendidikan yang hanya memotret sesaat, apalagi kemudian ternyata siswa didril dengan tiga mata pelajaran yang diujikan.


d. UN hanya memotret sesaat dimana siswa hanya didril dengan tiga mata pelajaran yang diujikan nasional sementara sekolah mengharapkan sebanyak mungkin lulus.
e. Pemerintah bersikeras pantang mundur menyelenggarakan UN jenjang SLTP dan SLTA dan SD meski protes selama ini berisi UN tidak bisa dipakai untuk memetakan kondisi praktis pendidikan.

 

 

Tembok Anjongan


Bari berhenti. Menarik napas, agak dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Sebelah tangannya memain-mainkan gas. Kedua matanya fokus memandang ke depan. Ke bentangan jalan raya yang sepi. Hanya ada dingin udara pagi dan sedikit kabut yang tampak menjadi tebal di tikungan agak jauh di hadapan. Ia melihat ke belakang sebentar, memastikan tak ada kendaraan yang akan lewat. Truk-truk pengangkut kayu bisa saja menghentikan aksinya kapanpun. Bahkan menghentikan nyawanya.

Ia menoleh lagi untuk terakhir kalinya. Aman. Satu tarikan napas terakhir. Bari menginjak persneling dan menarik gas motornya. Gigi satu, dua, tiga, empat. Ia terus memacu motornya. Mukanya berhantam dengan angin. Matanya berair. Rambutnya kering dan mengembang. Jantungnya berdegup semakin kencang. Seratus kilometer perjam. Seratus lima belas. Seratus dua puluh dan motornya mulai bedeper 1). Bari mengendorkan cengkraman tangannya, menurunkan kecepatannya sebab motornya mulai tak stabil dan sudah hampir sampai di depan gerbang kompleks tempat tinggalnya.



“Huahh.. seratus dua puluh!” Ia tersenyum puas, seakan baru saja menjadi seorang juara sekaligus memecahkan rekor kecepatannya. Ia mengarahkan motornya masuk ke dalam kompleks. Belum berapa lama, ia teringat sesuatu bersamaan dengan sebelah tangannya yang melayang menepuk jidat. “Aih, lupa aku belikan mamak bubur.”

Bari pun berbalik ke gerbang kompleks. Menoleh ke kiri dan ke kanan sebentar lalu menyeberang ke warung Mak Seli. Syukurlah warung Mak Seli bukanya awal, batinnya.

“Dari mana, Bar?” sapa seorang teman Bari, namanya Moses, anak juragan kayu. “perikanan, ha?”

“Iya.”

Ape can 2) kau buat pagi-pagi buta ke perikanan sana? Ngebut-ngebutan?”

Bari tersenyum saja. “Mak Seli, bubur bungkus dua ya. Satu tak pakai cabe.” Ia lalu duduk di bangku panjang.

“Nanti sore ke Tembok Anjongan yuk.” ajak Moses. “biasa, main sepeda.”

Bari terlihat girang. “Ayolah!” jawabnya lekas.


* * *


Tembok Anjongan bukanlah berbentuk berupa tembok seperti Tembok China, misalnya. Tembok Anjongan sebenarnya hanyalah jalan selebar satu meter yang terdapat di dalam Kampung Ambalau. Sebagian sudah dilapis semen, sebagian masih berupa tanah keras. Entah, kenapa anak-anak menyebutnya Tembok Anjongan alih-alih Tembok Ambalau. Jalan tersebut menghubungkan daerah Anjongan dengan Pauh, melewati Kampung Ambalau. Dan panjangnya pun tentu tak sepanjang Tembok China itu. Hanya sekitar lima kilometer. Tapi sepanjang Tembok Anjongan itu anak-anak menemukan arena bermainnya yang sangat seru. Setiap sore menjelang petang, mereka menggunakannya sebagai lintasan sepeda.

Sepanjang ‘lintasan’ Tembok Anjongan yang hanya lurus atau berkelok tapi tak memiliki cabang itu terdapat zona-zona yang berbeda di dalamnya yang membuat ‘petualangan’ semakin seru. Dari kilometer pertama ke kilometer sekian berisi rumah-rumah penduduk Kampung Ambalau, kilometer berikutnya memasuki zona pohon-pohon-seolah tengah melintasi hutan dan tentunya udara terasa sangat sejuk saat melintasi zona itu. Lalu zona ‘padang pasir’-anak-anak menyebutnya demikian sebab terdapat banyak pasir sisa pembangunan di sana-dan zona ini menurut mereka adalah zona yang paling berbahaya, sebab sepeda gampang oleng saat ban melintas di atas timbunan pasir dan tentunya dapat membuat mereka terjatuh. Zona berikutnya adalah zona tanjakan dan turunan-pada zona ini biasanya mereka serempak mengeluarkan suara teriakannya saat meluncur di turunan yang lumayan curam, lalu dengan cermat menarik rem saat mendekati tikungan tajam menuju zona berikutnya. Zona terakhir sekaligus menuju ‘garis finish’ dari Tembok Anjongan adalah zona tenang-tak ada tanjakan, turunan, ataupun timbunan pasir-mereka dapat mengayuh sepeda mereka dengan santai dan menarik napas sejenak, sebelum akhirnya tiba di jalan raya, menghadap hamparan sawah, dan disambut dengan sorot sinar senja yang kemerahan-menyiratkan untuk mereka gemilang kemenangan.

“Ayo, Din!” Bari berseru, ia sudah siap dengan sepeda gunungnya.

Empat orang temannya yang lain pun sudah bersiaga. Ada Moses si anak juragan kayu, Sarudin anak tukang ikan, Iswadi anak pemilik bengkel motor, dan satu-satunya perempuan di sana-Wita, anak pegawai negeri di kompleks pertanian, sama dengan ibunya Bari.

“Jangan lupa, hati-hati nanti waktu masuk daerah padang pasir, pandai belenggok 3) sendiri sepeda kau.” Sarudin yang paling tua memberikan nasihat kepada teman-temannya yang sudah tak sabar ingin memacu sepeda mereka.

“Tahu beh 4)..”, mereka serempak menjawab petuah Sarudin.

“Yang paling cepat sampai di Pauh, dia yang menang.” kata Iswadi.

“Tak boleh lepas azan magrib, siapa yang begitu tau sendiri akibatnya.” Wita melanjutkan. “akan kena tangkap hantu.”

Mereka memang punya kesepakatan yang agak aneh, tepatnya pada bagian ditangkap hantu. Bari sendiri yakin tak ada hantu di Kampung Ambalau, di Anjongan, di mana saja. Hantu hanya ada di televisi. Hantu yang tak memakai baju, hantu yang entah seperti lelaki entah seperti perempuan, hantu yang pakai kemeja dan dasi, hantu yang bergoyang sambil bernyanyi-nyanyi, banyak lagi. Tapi tidak di sini, Bari membatin. Ia tahu ‘kena tangkap hantu’ hanya alat untuk menakuti-nakuti agar memicu dirinya, dan juga teman-temannya yang lain, untuk memacu sepedanya dengan kencang agar tak ketinggalan di belakang.

“Ayooo!” Bari kembali berseru, kali ini lebih keras, penanda bahwa balapan sudah dimulai.

Bak pembalap sepeda profesional, mereka-terutama kaum lelaki-mengayuh sepedanya sambil merendahkan punggungnya. Sementara Wita tetap mengayuh dengan tegap. Mereka mengalami kesulitan saat hendak melewati zona pertama-zona rumah-rumah penduduk Kampung Ambalau-sebab banyak orang berlalu-lalang. Ada bibi-bibi penjual jamu, ada yang tengah mengangkat jemuran, ada yang sedang memberi makan anaknya, ada anak-anak berlarian, ada tukang penjual sayur, ada pula yang tengah menjemur jagung dan biji kopi. Dengan lebar jalan yang hanya sekitar satu meter tentu mereka harus bersusah-payah berkelit dan tak bisa memacu sepeda dengan cepat.

Akhirnya setelah beberapa menit menahan diri untuk tidak ngebut, mereka bisa lepas dari zona pertama dan masuk ke zona kedua, zona hutan. Jalan Tembok Anjongan sudah terlihat lapang dan mereka bebas memacu sepeda mereka secepat yang mereka inginkan. Bari tak mau menunggu lebih lama, ia langsung menyalip Sarudin dan Iswadi yang berada di depannya. Dengan sedikit manuver dan mengambil resiko untuk keluar jalur, ia sukses mendahului Sarudin. Sarudin terlihat mengumpat, dan Bari tertawa senang.

Beberapa menit berlalu, Bari merasakan perutnya mulas. Ia mau kencing. Dipelankannya sepedanya, dan ia menepi di dekat sebuah pohon. Ia pun buang air di sana.

“Oi! Apa kau buat, Bar!” Sarudin menyeru, ia menyusul Bari dan dengan segera melewatinya. “aku duluan! Hahaha..”

Bari menggerutu. Ah sialan, pikirnya. Ia buru-buru mengaitkan kancing dan menaikkan risleting celananya. Dengan sigap ia meraih sepedanya dan langsung menaikinya sembari mulai mengayuh lagi.

Di tengah jalan, ia dapat melihat sosok temannya, agak jauh. Ia mengayuh sepedanya semakin laju. Setelah dekat, ternyata Sarudin dan Iswadi tengah tergeletak. Sepertinya mereka baru saja tabrakan satu sama lain. Bodoh, batin Bari. Tapi ia girang karena saingan terberatnya sudah bisa dipastikan gugur dari pertempuran. Ia membiarkan Sarudin dan Iswadi duduk teraduh-aduh di tanah memegangi lutut dan siku sambil berusaha keras mengangkat sepeda mereka yang ringsek.

Aku akan menang, ucap Bari dalam hatinya.

Memasuki zona padang pasir, di belakang Bari ada Wita dan Moses yang cukup terlihat kepayahan menyusul Bari, tapi mereka sudah hampir dekat. Tiba-tiba Wita yang melintas melewati timbunan pasir oleng dan terjatuh bersama sepedanya, menimbulkan bunyi ‘gedebuk’ yang teredam.

Tak ada suara.

“Bar, berhenti bentar, kayaknya Wita pingsan itu.” Moses menghentikan sepedanya dan menoleh ke belakang.

“Ah udahlah, nanti kita jemput lagi ke sini habis kita sampai di garis finish.” Bari mengacuhkan, sebelah tangannya memberi isyarat kepada Moses agar melanjutkan pertandingan mereka.

Moses menoleh ke Bari, menoleh lagi ke Wita yang terkapar di atas pasir beberapa meter di belakangnya. Ia cemas. Wita tak bersuara, apalagi menangis. Ia pasti pingsan. Bagaimana ini, gumamnya dalam hati.

“Oi, Ses! Ayolah!” Bari berseru, keras.

Setelah membuang jauh-jauh rasa cemasnya karena Bari berkata mereka akan kembali lagi untuk menjemput Wita, juga Sarudi dan Iswadi di belakangnya, Moses pun melanjutkan perjalanan. Ia mengayuh sepedanya dan menyusul Bari.

Lepas zona padang pasir, mereka memasuki zona tanjakan dan turunan. Tak berselisih jauh, Bari memimpin sementara Moses membayang-bayanginya. Sampai di puncak tanjakan, Bari melihat di bawahnya turunan yang cukup curam, begitu juga dengan Moses. Ini kesempatanku mengejar dan meninggalkan Bari, Moses berkata kepada dirinya sendiri.

Tanpa disadari Bari, Moses menyalipnya secara tiba-tiba. Ia mengayuh sepedanya begitu kencang padahal jalanan menurun dan lumayan curam. Menyebabkan kecepatan sepedanya meningkat berkali-kali lipat. Suara angin sampai berdenging di telinganya.

“Hahaha.. aku menang, Bar. Aku menang!” Moses berseru kegirangan. Ia tak sadar di depannya ada tikungan tajam. Ia pun lengah dan terlambat menarik tuas rem hingga tergelincir jatuh ke dalam jurang. Tubuhnya berguling-guling, begitu pula sepedanya.

Bari melihat kejadian itu, dan entah kenapa ia malah merasa senang. Saingannya habis semua. Ia menang.


* * *


Belum lama tadi azan magrib berkumandang. Musholla di Kampung Ambalau ramai dipadati jemaah. Mereka tak hanya shalat magrib, tapi juga menunaikan shalat jenazah.

Di tempat lain tak jauh dari musholla, ada yang sedang betekak 5).

“APA KAU BUAT DI HUTAN SANA?!” sergah Wak Amu, salah seorang warga Kampung Ambalau.

“Tak ada, cuma balapan sama kawan-kawan.” jawab Bari.

“Bohong! Kau pasti berbuat sesuatu sampai mereka semua celaka dan satu temanmu mati.”

Bari terdiam sebentar. Ia lalu tertunduk, melengos.

“Aku kencing di pohon, Wak.”

“Sudah kau ludah kencing kau itu?!” Wak Amu menatap Bari dengan amarah dan curiga.

Bari menggelengkan kepala, tangannya seakan mati rasa. Ia lupa kalau kencing sembarangan dan tak ada air untuk menyiram, bekas kencing itu harus diludah, agar tak menimbulkan bala. Biasanya ia tak pernah luput dengan hal-hal semacam itu, meski ia tak pernah sekalipun percaya. Tapi kali tadi ia benar-benar khilaf sebab tak ingin tertinggal oleh teman-temannya di lintasan Tembok Anjongan. Ia ingin menang dalam balapan itu.



* * *


Bari menarik gas motornya. Laju, laju, dan kian laju. Ia tahu karena kebodohannya, salah seorang sahabatnya sudah memasuki zona lain di Tembok Anjongan. Zona tersembunyi. Ia tak ingin ketinggalan. Segera, batinnya. Segera, ia akan sampai juga di sana, bersama dingin udara pagi buta, secukupnya kabut, dan suara klakson truk pengangkut kayu yang menyusul di belakangnya.